Rabu, 23 Maret 2016

Hikmah Shalat Dalam Membentuk Kepribadian Muslim

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Hikmah Shalat Dalam Membentuk Kepribadian Muslim

Hikmah Shalat


Imam Ali bin Abi Thalib ra. Pernah berkata :”Sungguh aku sangat tercengang. Tidak pernah aku melihat sesuatu yang serius lagi pasti, tetapi dianggap hal yang sepele sepertinya dia tidak akan terjadi, itulah maut. Aku juga tidak melihat sesuatu yang akan ditinggalkan lagi kecil, namun banyak diperebutkan dan seolah-olah merupakan sesuatu yang besar dan kekal, itulah dunia”
Ungkapan Imam Ali ra. Tersebut di atas, kalau kemudian ditarik ke ranah ibadah, khususnya shalat, terdapat pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh kita selaku ummat Islam. Pertanyaan tersebut adalah: mengapa uraian dan perintah mengenai shalat di dalam al-Qur’an terjadi berulang-ulang? apakah ia merupakan ulangan yang tidak dibutuhkan lagi, mengingat telah lamanya kewajiban ini dikenal umat? Atau apakah ia merupakan uraian yang sangat dibutuhkan, mengingat banyaknya umat yang enggan atau malas dalam mendirikan shalat atau umat ingin shalat tapi tidak tahu ilmunya, atau mengerjakan namun keliru, atau mendirikan dan melaksanakan shalat namun tidak menghayati kandungan dan makna dalam shalat tersebut ?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak untuk dikemukakan, mengingat masih banyaknya umat Islam saat ini yang melaksanakan shalat, namun seolah shalatnya tidak memberikan dampak apapun dalam perilaku keseharian, baik perilaku individual maupun perilaku sosial.
Allah SWT, telah berfirman di dalam QS. Al-Ankabut (29) : 45 :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Surat al-Ankabut ayat 45 tersebut di atas, diawali dengan kata ‘utlu’ terambil dari kata ’tilawah’ yang pada mulanya berarti mengikuti. Al-Qur’an membedakan penggunaan kata tilawah dengan kata qiraah yang juga mengandung pengertian yang sama. Kata tilawah dalam arti membaca, menunjukan bahwa yang menjadi objek bacaannya adalah sesuatu yang agung dan suci, atau benar, sedangkan qiraah, maka objeknya lebih umum, mencakup yang suci atau tidak suci, kandungannya bisa jadi positif namun bisa juga negatif.
Dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 di atas, yang menjadi objek perintahnya adalah wahyu, sehingga perintahnya menggunakan kata utlu yang artinya ikuti ! Secara harfiah perintah tersebut mengisyaratkan bahwa apa yang dibaca itu yang dalam hal ini adalah wahyu Allah, maka diikuti dengan pengamalan.
Setelahnya Allah SWT. memerintahkan untuk membaca wahyu-Nya yaitu al-Qur’an dan mengamalkan isi al-Qur’an tersebut, kemudian Allah memberikan bayan atau penjelasan mengenai hal yang harus diikuti dan dilaksanakan tersebut, yaitu dengan perintah untuk mendirikan shalat.
Di dalam al-Qur’an, perintah melaksanakan shalat senantiasa dengan kata aqimu atau yang seakar dengannya. Kata aqimu dan yang seakar dengan kata tersebut, mengandung makna berkesinambungan dan sempurna. Hal ini memiliki pengertian bahwa shalat harus dilaksanakan secara berkesinambungan, mentaati syarat-syarat dan rukun-rukunnya, sehingga menjadi sempurna.
Perintah untuk mendirikan shalat dengan sempurna tersebut, bukan hanya perintah yang tidak memiliki akibat dan hikmah, namun bahkan sebaliknya banyak akibat dan hikmah yang dapat diperoleh pelakunya. Akibat dan hikmah tersebut adalah tercegahnya pelaku shalat yang berkesinambungan dan sempurna dari perbuatan yang keji dan munkar.
Menurut Ibn ‘Asyur, kata tanha/melarang lebih tepat dipahami dalam arti majazi, sehingga ayat ini mempersamakan segala sesuatu yang dikandung oleh shalat sebagai “larangan”. Selain itu, dengan kata tanha yang digunakan pada ayat di atas terdapat makna yang mempersamakan shalat dengan segala hal yang dikandung dalam shalat tersebut bagaikan seorang yang melarang. Shalat mengandung sekian banyak hal yang mengingatkan kepada Allah, sehingga shalat merupakan pemberi ingat kepada yang shalat. Shalat itulah yang nantinya akan melarang atau mencegah melakukan pelanggaran yang tidak diridhoi Allah.
Dengan demikian, maka hikmah pengaturan Allah SWT terhadap waktu-waktu shalat sehingga berbeda-beda, agar secara berulang-ulang shalat itu sendiri melarang, mecegah, menasihati dan mengingatkan para pelaksana sholat yang akan berefek pada bertambahnya kesan ketakwaan dalam hati pelakunya serta terjauhkan jiwanya dari kedurhakaan.
Kedurhakaan di dalam ayat tersebut di atas, dikemukakan dengan dua kata, yaitu fashya dan munkar. Kata ‘al-fashya ‘a’ pada mulanya berarti sesuatu yang melampaui batas dalam keburukan dan kekejian, baik ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kata ‘al-munkar’ pada mulanya berarti sesuatu yang tidak dikenal sehingga diingkari dalam arti tidak disetujui. Lawan kata dari al-munkar adalah al-ma’ruf, yang artinya dikenal. Sebagian ulama mendefinisikan kata munkar dari segi pandangan syariat sebagai segala sesuatu yang melanggar norma-norma agama dan adat istiadat suatu masyarakat. Dengan demikian, maka kata munkar memiliki pengertian yang lebih luas dari kata ma’shiyat/maksiat.
Ayat tersebut di atas, menggandengkan kata al-fashya’ dan al-munkar, sehingga dapat disimpulkan bahwa Allah melarang manusia melakukan segala macam kekejian dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat. Dalam hal ini shalat mempunyai peranan yang sangan besar untuk mencegah kedua bentuk keburukan tersebut, apabila shalatnya itu sendiri dikerjakan penuh kesempurnaan dan berkesinambungan.
Abul Aliyah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya : QS al-ankabut 45 : Sesungguhnya di dalam shalat itu terkandung tiga perilaku, setiap shalat yang tidak mengandung salah satu dari ketiga perilaku tersebut bukan shalat namanya. Ketiga perilaku itu adalah: ikhlas, khusyuk, dan zikrullah (mengingat Allah). Ikhlas akan mendorongnya untuk mengerjakan perbuatan, dan zikrullah yakni membaca Al-Qur’an menggerakkannya untuk amar makruf dan nahi munkar.
Selanjutnya Allah SWT. menyebutkan dalam firman-Nya tersebut :
Yang berarti : “Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lainnya).
Kata dzikr digunakan dalam arti potensi dalam diri manusia yang menjadikannya mampu memelihara pengetahuan yang dimilikinya. Shalat dinamai dzikr karena di dalam shalat itu terdapat ucapan-ucapan serta ayat-ayat al-Qur’an yang harus diucapkan, dengan tujuan untuk mengingat Allah.
Ibnu Abbas berkata : “Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah ingatan Allah kepada kalian di saat kalian mengingatnya adalah lebih besar daripada ingatan kalian kepada-Nya”.
Said Hawwa berkata : inilah esensi shalat dan menegakkannya. Siapa saja yang berhasil mewujudkannya akan menjadi manusia yang terbebas dari segala bentuk kelemahan, dan meningkat menjadi makhluk terbaik. Ibnu Abid-Dunya menyebutkan dari Fudhail bin Marzuq, dari Athiyah, bahwa yang dimaksudkan wa ladzikrullah akbar dalam firman Allah SWT tersebut adalah : “Ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian”. Pengingatan Allah terhadap kalian jauh lebih besar daripada pengingatan kalian terhadap-Nya.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Yang benar tentang makna ayat ini, bahwa di dalam shalat itu ada dua makna yang besar, dimana yang satu lebih besar dari yang lainnya. Ia mencegah dari kekejian dan kemungkaran dan Ia juga mencakup mengingat Allah. Namun cakupan mengingat Allah ini lebih besar dari pada kemampuannya mencegah kekejian dan kemungkaran”.
Kata tashna’un digunakan untuk menunjuk perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang telah mahir dan terampil. Al-Biqa’i mengatakan bahwa shalat dan amal shaleh memerlukan latihan kewajiban dan pengulangan pengalaman agar ia menjadi kebiasaan yang melekat.
Sesungguhnya shalat yang khusyu, disertai hati yang tunduk, pengerjaan rukun, dan penghayatan bacaan dengan benar dan ikhlas memiliki dampak efektif dalam mencegah perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang dilakukan dengan kehadiran hati pada setiap apa yang dilakukan, merupakan dzikir yang murni karena Allah Ta’ala yaitu shalat yang menyatukan gerak hati, lisan, dan anggota badan secara integral.
Dengan memahami terhadap makna kata-kata yang terdapat dalam QS. Al-ankabut (29) : 45, maka minimal ada 4 hal pokok yang harus tertanam pada diri seseorang dalam mengerjakan sholat. Ke 4 hal tersebut adalah :
1.       Shalat itu harus dikerjakan secara berkesinambungan dengan mentaati syarat-syarat dan rukun-rukunnya;
2.       Shalat merupakan pemberi ingat kepada yang melaksanaknnya, dan shalat itu sendiri yang nantinya akan melarang melakukan pelanggaran yang tidak diridhoi Allah SWT;
3.       Shalat hanya akan mempunyai peranan yang sangat besar dalam mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar, apabila shalat dilaksanakan dengan kesempurnaan dan berkesinambungan.
4.       Mengingat Allah memerlukan latihan kejiwaan dan pengulangan pengalaman agar ia menjadi kebiasaan yang melekat.



Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Hikmah Di Balik Sakit

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Hikmah Di Balik Sakit

Hikmah Di Balik Sakit


Dalam suatu kesempatan, Ustad Arifin Ilham menjebarkan beberapa hal positif yang kita peroleh ketika kita sedang menderita penyakit. Dengan sakit, kita dapat menjadi sosok yang lebih sering mengingat Allah. Selain itu, ada beberapa hikmah yang dapat ditemukan selama kita sakit.
Pertama, kita dapat bercermin pada kisah Ayub AS. Beliau adalah nabi yang diberi cobaan berupa penyakit yang tidak kunjung sembuh. Dengan penyakit tersebut, Nabi Ayub AS memiliki kesabaran yang sangat tinggi sehingga dapat kita contoh saat kita terserang penyakit. Kedua, sakit adalah cara Allah untuk meninggikan derajat hamba-Nya.
Saat sedang sakit, manusia cenderung lebih sering membaca zikir kepada Allah bila dibandingkan dengan ketika dia masih sehat walafiat. Pada saat itu pula kita melakukan ikhitar dan doa secara maksimal.
Sakit dapat memberikan pelajaran bagi banyak orang. Dengan sakit, kita dapat mengetahui hal-hal yang menyebabkan timbulnya penyakit sehingga di masa mendatang kita dapat melakukan antisipasi. Orang-orang dan keluarga yang menjenguk pun dapat menerima pelajaran tersebut. Selain itu, tali persaudaraan yang timbul antara seseorang yang sakit dan penjenguknya dapat dipererat.
Sakit jugalah yang dapat menjauhkan kita dari beberapa maksiat yang dapat dengan mudah kita lakukan sewaktu sehat. Selain itu, sakit dapat membuat seseorang ingat akan kematian. Semoga beberapa hikmah di atas dapat kita pahami dan resapi agar tingkat ketaqwaan kita meningkat.




Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Cerita Hikmah : Dua Saku Yang Berbeda

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Cerita Hikmah : Dua Saku Yang Berbeda

Cerita Hikmah : Dua Saku Yang Berbeda

Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua tas. Pada saku yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada saku yang lainnya tidak terdapat lubang.
Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian dan sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam saku yang berlubang.
Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam saku yang tidak ada lubangnya.
Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh saku yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun.
Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.
***
Sobat… Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan yang kita jalani ini. Menyimpan semua yang baik di “Saku yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik akan hilang dari hidup kita.
Sebaliknya, simpanlah semua hal buruk yang terjadi pada kehidupan kita di “Saku yang berlubang”, maka kemudian hal yang buruk itu akan terjatuh dan tidak perlu kita ingat kembali.
Kendati demikan, masih banyak diantara kita yang melakukan hal tersebut berbalik-balik, kita menyimpan semua hal yang baik di “Saku yang berlubang”, dan yang tidak baik di “Saku yang tidak berlubang” (memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka ketahuilah sobat, jiwa kita akan menjadi tertekan dan tidak ada gairah dalam menjalani hidup.
Maka dari itu, agar kita bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: janganlah menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kehidupan kita, biarkan dia sirna jauh dari tatapan mata kita, sehingga tidak satupun dari kita yang tidak merasakan ketenangan spiritual. Mari kita sama-sama menyimpan yang baik-baik agar dapat bermanfaat bagi kita dan umat esok harinya.

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Hikmah Di Balik Sunnah Tahnik Bayi

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Hikmah Di Balik Sunnah Tahnik Bayi

Hikmah Di Balik Sunnah Tahnik Bayi


Tahnik bayi merupakan metode imunisasi ala Rasulullah SAW dengan cara mengunyahkan lumatan kurma ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Tahnik atau suapan pertama itu dilakukan ketika bayi baru lahir dan sebelum menyusu kepada ibunya.
Jika kurma sulit untuk didapat, maka bahannya boleh diganti dengan sari kurma yang sudah jadi atau madu. Namun metode ini tidak banyak diketahui, karena orang lebih memilih menggunakan teknik vaksinasi.
Padahal selain bermanfaat pahala, sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW ini juga memiliki khasiat medis yang teruji. Manfaat apakah yang dimaksud? Berikut ini ulasan hikmah di balik sunnah tahnik bayi.
Bayi yang baru lahir rentan terhadap kadar gula rendah dan memiliki kandungan glukosa yang sangat kecil dalam darahnya. Untuk mengantisipasi hal ini dokter biasanya akan memberikan tambahan gula pada bayi yang baru lahir.
Sebenarnya buah kurma merupakan penghasil glukosa yang sangat baik dan bagus untukesehatan bayi. Mentahnik bayi dengan kurma dapat memperkuat otot-otot mulut bayi sehingga bayi akan kuat menyusu pada ibunya. Cara ini merupakan sunnah Rasulullah SAW ketika ada bayi yang baru lahir. Seperti yang tertulis dalam hadist-hadist berikut ini.
Dari Abu Musa, beliau berkata, “(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim no. 2145).
Dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah bin Zubair di Mekkah : “Aku keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke Madinah, kemudian aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah, maka Rasulullah menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, dan beliau meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah bin Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (Rasulullah mentahniknya), dan kemudian beliaupun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.”
Masih banyak lagi riwayat-riwayat mengenai prosesi tahnik di zaman Rasulullah SAW. Sehingga sebagai umatnya, kita harus menyakini bahwa taknik tersebut adalah suatu hal yang harus dilakukan untuk kebaikan bayi.
Selain dianjurkan dalam syariat Islam, tahnik ini juga bermanfaat secara ilmiah untuk melindungi bayi dari serangan kuman dan bakteri serta segala sesuatu yang dapat membahayakan kesehatan. Seorang dokter dari Semarang, dr. Susilo Rini telah membuat penelitian mengenai tahnik bayi ini.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan di sekitar mulut bayi di tempat tumbuhnya gigi dan langit-langit mulut itu terdapat stem cell. Stem cell ini berfungsi untuk mematangkan sistem imunitas secara alami serta mengendalikan sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi, stem cell tersebut hanya mampu berfungsi apabila ada scrubbing  atau gosokan-gosokan di langit-langit mulut.
Tidak hanya itu, di dalam mulut bayi juga terdapat suatu zat yang bernama sialic acid. Zat tersebut berupa glikoprotein yang terkandung dalam liur atau saliva yang berfungsi sebagai penghadang mikroba serta mampu mengikat virus dan bakteri.
Pada bayi, zat yang satu ini hanya bisa berfungsi setelah umur si bayi mencapai sepuluh hari dan hanya ada dalam jumlah yang sedikit. Oleh karena itu, dibutuhkanlah bantuan dari luar tubuh bayi untuk mempercepat prosesnya.
Selain itu, buah kurma yang dijadikan bahan dasar untuk mentahnik itu juga mempunyai khasiat tersendiri bagi kesehatan bayi. Kurma merupakan makanan tinggi kandungan karbohidrat dan vitamin-vitamin. Selain itu, kurma juga kaya akan antioksidan dan anti mikroba.
Apabila kurma tersebut dikunyah  dan bercampur dengan air liur maka akan berubah menjadi glukosa. Glukosa sendiri sangat diperlukan untuk memberikan energi bagi sel-sel pertahanan tubuh yang belum matang pada bayi di hari-hari pertama. Pemberian kurma ini pada proses tahnik juga menjadi metode pematangan organ limfoid baik lokal maupun sistemik. Limfoid itu adalah kelenjar limfe yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.
Ada juga yang beranggapan bahwa tahnik ini bermanfaat untuk latihan makan si bayi agar menjadi kuat. Namun, hal yang perlu untuk dipahami lebih lanjut bahwa tahnik kepada bayi ini adalah pengharapan kebaikan untuk bayi dengan keimanan.
Adapun orang yang boleh menahnik bayi dianjurkan mereka yang memiliki kebaikan dan berilmu serta bisa mendoakan kebaikan  untuk bayi tersebut seperti ulama, ustadz, dan orang shaleh. Tidak hanya itu, orangtua juga diperbolehkan untuk mentahnik bayi mereka apabila orangtua tersebut berilmu dan sudah terbiasa menjalankan perintah agama dengan baik.
Demikianlah ulasan mengenai hikmah di balik sunnah tahnik bayi. Tentunya ada banyak sekali faedah yang akan diperoleh jika melaksanakan sunnah-sunnah nabi tersebut. Karena Allah SWT yang paling tahu mengenai hikmah semua amalan yang diperintahkannya. Semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang bertakwa dan mengikuti semua perintah serta menjauhi larangan-Nya.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Empat Hikmah Di Balik Keguguran dan Kematian Anak dalam Islam

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Empat Hikmah Di Balik Keguguran dan Kematian Anak dalam Islam

 Keguguran dan Kematian

Musibah hilir mudik mendatangi manusia sebagai ujian terhadap keimanan seseorang. Salah satu ujian terberat yang dihadapi adalah kehilangan orang yang sangat dicintai. Misalnya saja kehilangan anak yang seharusnya menjadi generasi penerus keluarga.
Banyak kasus kematian anak yang membuat orang tua depresi hingga gila. Mereka tidak bisa menerima kenyataan pahit harus kehilangan buah hati tercinta dalam usia yang masin muda. Kematian anak baik saat masih dalam kandungan atau pun setelah tumbuh menjadi balita memang menyakitkan.
Namun, orang yang kehilangan dilarang meratapi kepergian sang anak berlarut-larut. Karena dibalik itu semua, ada hikmah tersembunyi yang seharusnya orang tua wajib tahu. Berikut empat hikmah di balik keguguran dan kematian anak dalam Islam

1. Anak Tersebut Langsung Masuk Ke Dalam Surga Tanpa Hisab

Hikmah pertama yang akan diperoleh di balik keguguran dan kematian anak dalam Islam adalah anak tersebut aan langsung masuk ke surga tanpa harus dihisab terlebih dahulu. Pasti orangtua akan senang mendengarkan hal ini, mereka akan bahagia karena anak yang dikandungnya akan langsung masuk ke dalam surga. Memang musibah tersebut membuat hati terluka dan sedih yang luar biasa. Namun, orangtua akan bertemu dengan anaknya di akhirat kelak jika mereka juga masuk surga.
“Tiap-tiap anak orang Islam yang mati sebelum baligh akan dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Anak-Anak Tersebut Akan Mengantarkan Orang tuanya Untuk Masuk Pula Ke Dalam Surga
Anak-anak yang meninggal sebelum dilahirkan atau meninggal sebelum baligh dapat mengantarkan orangtuannya ke dalam surga. Tentu saja hal ini menjadi penyejuk meskipun hati tengah berduka. Karena kelak akan berjumpa dan bersama-sama dengan buah hati yang dicintai di dalam surga
Anak yang telah meninggalkan kita di dunia yang belum dalam keadaan baligh akan mengantarkan kita sebagai orang tuanya ke dalam surga. Sungguh sangat senangnya kita bila diri ini masuk kedalam surga Allah bersama buah hati yang kita cintai.
Menurut Hadits Qudsi
Allah SWT berfirman pada harui kiamat kepada anak-anak:
“Masuklah kalian ke dalam surga!”
Anak-anak itu berkata: “Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk.”
Lalu mereka mendekati pintu syurga! tapi tidak mau masuk ke dalamnya. Allah
berfirman lagi: “Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian ke dalam surga!”
Mereka menjawab: “Tetapi (bagaimana) orang tua kami?” Allah pun berfirman:
“Masuklah kalian ke dalam syurga bersama orang tua kalian”. (Hadits Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syua’ah yang bersumber dari sahabat Nabi SAW)
Diriwayatkan dari Anas ra: ”Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang muslim kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali, Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).
3. Allah Tidak Pernah Membebani Sesuatu Di Luar Kadar Kesanggupan Hamba-Nya
Hikmah selanjutnya di balik kehilangan buah hati adalah, Allah tidak pernah membebani sesuatu di luar kadar kesanggupan hamba-Nya. Pastinya perkataan tersebut sudah sangat familiar di telinga. Jadi mengapa sedih? Meski Allah memberikan cobaan yang berat, namun ingatlah Allah adalah Dzat yang Maha Adil dengan memberikan hikmah di balik setiap kejadian.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf.'”
4. Allah Akan Memberi Ganti Yang Lebih Baik Lagi, Jika Orang tuanya Bersabar
Di balik cobaan kehilangan buah hati yang disayangi, ternyata Allah memberikan hikmah di baliknya. Allah akan memberi ganti yang lebih baik lagi jika orangtuanya tersebut bersabar. Teruslah berdoa kepada Allah SWT agar setiap doa yang terucap dapat dikabulkan. Karena Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Itulah hikmah di balik keguguran dan kematian anak dalam Islam. Meskipun tengah berada dalam kedukaan karena kehilangan orang yang disayangi, cobalah untuk mengambil pelajaran dari cobaab tersebut. Mungkin saja Allah menyelipkan hikmah di balik semua itu dan dan meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya.



Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!